Tugas
MANAJEMEN PRODUKSI DAN PEMASARAN
"Perencanaan Kapasitas Produksi"
DARWIN HAMENTE
D1C1 13 092
TPG – B / 2013
JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI DAN INDUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2016
PERENCANAAN KAPASITAS PRODUKSI
A. Konsep Kapasitas
Kapasitas adalah suatu tingkat keluaran, suatu kuantitas keluaran dalam periode tertentu, dan merupakan kuantitas keluaran tertinggi yang mungkin selama periode waktu tersebut. Beberapa definisi kapasitas secara umum adalah sebagai berikut:
1. Desaign capacity, yaitu tingkat k eluaran per satuan waktu pabrik yang dirancang
2. Rated capacity, yaitu tingkat keluaran per satuan waktu yang menunjukkan bahwa fasilitas secara teoritik mempunyai kemampuan memproduksinya
3. Standard capacity, yaitu tingkat keluaran per satuan waktu yang ditetapkan sebagai “sasaran” pengoperasian bagi manajemen, supervisi dan para operator mesin
4. Actual/operating capacity, yaitu tingkat keluaran rata-rata per satuan waktu selama periode-periode waktu yang telah lewat
5. Peak capacity, yaitu jumlah keluaran per satuan waktu yang dapat dapat dicapai melalui maksimasi keluaran, dan mungkin dilakukan dengan kerja lembur, menambah tenaga kerja, menghapus penundaan-penundaan, mengurangi jam istirahat, dan lain-lain.
Perusahaan biasanya menggunakan tingkat kapasitas nyata atau kapasitas pengoperasian yang ditentukan dari laporan-laporan atau catatan-catatan pusat kerja. Bila informasi ini tidak tersedia, "rated capacity" digunakan dan dapat diperkirakan dengan rumusan :
Mesin mesin penggunaan sistem
Sebagai contoh :
Suatu pusat kerja beroperasi 6 hari per minggu dengan basis dua "shift" (8 jam per shift) dan mempunyai empat mesin dengan kemampuan sama. Bila mesin-mesin digunakan 75 % dari waktu pada tingkat efisiensi sistem sebesar 90%, tingkat keluaran dalam jam kerja standar per minggu dapat dihitung sebagai berikut :
Rated Capacity = (4) (8 x 6 x 2 ) (0,75) (0,90)
= 259 jam kerja standar/minggu.
B. Kapasitas Tenaga Kerja dan Kerja Lembur untuk Perluasan Kapasitas
Bagi perusahaan biasanya adalah tidak ekonomik untuk menambah dan mengurangi tenaga kerja dengan naik dan turunnya penjualan. Ini bukan berarti bahwa jumlah karyawan adalah sumber daya kapasitas yang tetap, tetapi penyesuaian-penyesuaian besar (substansial) dapat dibuat tanpa harus menarik lebih banyak orang dan kemudian memutuskan hubungan kerja dengan mereka.
Sebagai contoh :
Anggap bahwa suatu perusahaan untuk membuat produknya memerlukan karyawan yang bekerja normal 5 hari selama 40 jam dengan jumlah sebagai berikut :
Juni ...............
|
300
|
Juli ...............
|
400
|
Agustus ............
|
600
|
September ............
|
450
|
Oktober ............
|
400
|
Beban tenaga kerja dalam bulan Agustus adalah dua kali lipat bulan Juni. Bagaimanapun juga, jumlah orang yang dibutuhkan adalah dalam artian "karyawan ekuivalen" yang bekerja 40 jam satu minggu. Tetapi jumlah jam per minggunya dapat diubah, dan kelebihan jumlah kerja dapat kita sub kontrakkan atau dengan penimbunan persediaan.
Berikut ini merupakan sebuah rencana yang feasibel bagi jam kerja pabrik untuk memenuhi kebutuhan penjualan dengan menggunakan tenaga kerja konstan
Bulan
|
Jumlah
karyawan
|
Jumlah jam
per minggu
|
Karyawan ekuivalen yang dikontrak dari luar
|
Juli.......
|
350
|
34
|
-
|
Juli.......
|
350
|
46
|
-
|
Agustus...
|
350
|
58
|
92
|
September…
|
350
|
51
|
-
|
Oktober...
|
350
|
46
|
-
|
Penggunaan kerja lembur, subkontrak dari luar, atau penimbunan persediaan merupakan kebutuhan-keputusan manajerial dan tergantung pada biaya-biaya relatif masing-masing alternatif.
C. Penentuan Kebutuhan Kapasitas
Sebuah Contoh Perhitungan :
Pada dasarnya, penentuan jumlah unit kapasitas (misal, jam kerja karyawan atau mesin) yang diperlukan selama periode waktu tertentu dibuat melalui penghitungan rasio permintaan terhadap kapasitas satu unit sumber daya. Jadi, bila 500 jam kerja karyawan dibutuhkan untuk memenuhi permintaan selama satu bulan dan seorang karyawan bekerja 160 jam per bulan, maka diperlukan 3,125 karyawan. Dalam praktek, bagaimanapun juga, sejumlah faktor-faktor tambahan harus dipertimbangkan dalam penentuan kebutuhan kapasitas ini. Jumlah total jam sumber daya standar yang dibutuhkan untuk memenuhi permintaan akan X produk-produk yang berbeda dengan Ni setiap jenis produk adalah sama dengan waktu yang di butuhkan untuk mempersiapkan dan memproduksi setiap unit ditambah waktu untuk mempersiapkan setiap kumpulan, atau :
Hstd = Σ X [Oi ( Ti + Si ) + Bi Ni ] ; i = 1
Dimana ;
Hstd = jumlah total jam sumber daya yang dibutuhkan untuk memenuhi permintaan.
Oi = jumlah unit keluaran X yang diperlukan.
Ti = waktu pengoperasian standar per unit X.
Si = waktu persiapan standar per unit keluaran X
Bi = waktu standar untuk mempersiapkan sekumpulan X
Ni = jumlah kumpulan X yang diperlukan.
X = jumlah jenis produk, sebagai contoh, produk 1, produk 2.
Jumlah sumber daya nyata yang dibutuhkan adalah jam sumber daya standar dibagi efisiensi dan produktivitas atau
Hstd
Eo Pw Em
Dimana ;
Hact = jam sumber daya nyata yang dibutuhkan
Eo = efisiensi organisasional.
Pw = produktivitas operator
Em = efisiensi mesin, faktor pemeliharaan, atau faktor mesin berhenti (rusak).
Jumlah unit sumber, daya yang dibutuhkan (peralatan, mesin atau karyawan) adalah sama dengan jam sumber daya nyata yang dibutuhkan dibagi jumlah jam yang tersedia per unit sumber daya.
Hact
Havl
Dimana ;
Nr = jumlah unit sumber daya yang dibutuhkan (peralatan, mesin, atau karyawan).
Havl = jumlah jam yang tersedia per unit sumber daya selama periode waktu tertentu.
Contoh :
Suatu perusahaan menghadapi permintaan akan produknya sebesar 200 unit. Ada 22 hari kerja per bulan. Waktu pengoperasian standar per unit sebesar 8 jam, dan ini me merlukan waktu setengah jam untuk persiapan setiap unit. 200 unit produk akan diproses dalarn 10 kumpulan. Pada akhir setiap kumpulan, mesin harus diuji dan disesuaikan kembali sebelum kumpulan berikutnya diproses; waktu penyiapan ini memerlukan 4 jam. Efisiensi organisasional diperkirakan 95%, dari mesin-mesin beroperasi dengan efisiensi 90 % - berarti, selama mesin-me-sin dioperasikan dengan kecepatan wajar, diperlukan waktu penundaan untuk pemeliharaan selama 48 menit per hari. Mesinmesin dijalankan 8 jam per hari dan para operator mesin bekerja sesuai tingkat standar (1,00). Berapajumlah mesin yang dibutuhkan untuk memenuhi permintaan bulanan ?
X
Hstd = Σ [ 0i (Ti + Si) + Bi Ni ) ; i = 1
Hanya ada satu produk, sehingga X = 1, dan
Hstd =
|
200 (8 + 0,5 ) + 4 (10)
|
= 1.740 jam standar.
| ||
Hact =
|
Hstd
|
=
|
1.740
|
= 2.035,1 jam nyata.
|
Eo Pw Em
|
0,95(1.,0)0,90
| |||
Nr =
|
Hact
|
=
|
2.035,1
|
= 11,56 mesin.
|
Havl
|
22 (8)
| |||
Apakah hasil tersebut dibulatkan menjadi 12 mesin dengan terdapat waktu menganggur atau 11 mesin dengan operator harus bekerja lembur tergantung pada biaya-biaya setiap alternatif. Bila biaya-biaya yang diakibatkan mesin ke 12 (biaya depresiasi, pemeliharaan, overhead, dan sebagainya) lebih kecil daripada biaya-biaya kerja lembur (atau biaya-biaya insentif untuk mendapatkan para operator clan mesin-mesin bekerja lebih cepat), maka mesin ke 12 harus digunakan.
D. Analisis Break-Even Dan Kapasitas
Titik break-even merupakan titik dimana penghasilan total sama dengan biaya total. Atau dalam bentuk rumusan menjadi :
P x Q = F + ( V x Q )
dengan keterangan :
P = harga per unit
Q = kuantitas yang dihasilkan
F = biaya tetap total
V = biaya variabel per unit.
Karena Q, kuantitas, adalah tidak diketahui padahal yang kita cari, kita dapat menggunakan aljabar untuk merumuskan kembali persamaan ini sebagai berikut :
PQ = F + VQ
F = (P-V)Q
dengan demikian, maka :
F
P - Q
Sebagai contoh,
Harga penjualan produk A adalah Rp 100.000,- per unit, dan biaya bahan mentah dan tenaga kerja langsung sebesar Rp 80.000,- per unit, dan biaya tetap per bulan Rp 20.000.000,-. Titik break even dalam unit keluaran dapat dihitung :
20.000.000
100.000 - 80.000
"Kontribusi" Laba
Istilah (P-V) disebut "kontribusi", yaitu jumlah kelebihan atau selisih harga jual per unit di atas biaya variabel per unit (atau penghasilan total melebihi biaya variabel total). Dalam contoh ki te, harga jual satu produk A memberikan kontribusi sebesar Rp 20.000,- terhadap penutupan biaya tetap sampai titik break even tercapai. Di atas 1.000 unit, kontribusi Rp 20.000,- akan berupa laba sebelum pajak.
Hubungan-hubungan ini dapat digunakan oleh para manajer dalam perencanaan kapasitas mereka. Manajer dapat menentukan, sebagai contoh, pengaruh pada laba (atau rugi) perubahan perubahan kuantitas yang dihasilkan. Bila manajer ingin mengetahui pada volume berapa laba akan sebesar Rp 5.000.000,-, maka cara termudah adalah membagi Rp 5.000.000,- dengan Rp 20.000,- dan mendapatkan 250 unit di atas volume breakeven, atau 1.250 unit dalam total, yang akan harus dihasilkan. Dalam bentuk rumusan,jumlah yang dihasilkan total adalah :
Q =
P – V
100.000 - 80.000 20.000
= 1.250 unit
Agar lebih realistik, manajer perubhaan perlu memasukkan pajak pendapatan karena semua laba yang dihasilkan penjualan di atas titik break-even adalah laba kena pajak. Oleh karena itu, rumusan untuk mencari volume yang dihasilkan sekarang menjadi
Laba yang diinginkan
1 – tingkat pajak
P – V
Misal ;
Dalam contoh kita, tingkat pajak adalah 40 %, jumlah yang harus dihasilkan untuk memperoleh laba Rp 5.000.000,- adalah :
5.000.000
1 – 0,4
100.000 – 80.000
20.000.000 + 8.333.333
20.000
Q = 1.417 unit
Rasio Kontribusi
Untuk maksud perencanaan kapasitas, kita penting mengetahui "rasio kontribusi" atau kadang-kadang disebut "variasi laba" untuk produk-produk individual. Rasio ini mengukur kontribusi relatif produk sebagai persentase harga per unit. Rumusan perhitungannya adalah :
P - V
P
Dengan menggunakan contoh kita di muka :
CR = x 100 = 20%
Rp 100.000

Tidak ada komentar:
Posting Komentar