Label

Foto (1) Tugas Akhir (2) Tugas Kuliah (21) Video (1)

Rabu, 26 April 2017

Pengaruh Suplementasi Vitamin A Terhadap Lama Diare pada Anak Usia 14-51 Bulan

MAKALAH
Pengaruh Suplementasi Vitamin A Terhadap Lama Diare pada Anak Usia 14-51 Bulan yang Berobat di Puskesmas Sukarami Palembang




OLEH :
KELOMPOK I. A

1Darwin Hamente
2Muh. Sihab Hizatullah
3Yamin Fandri
4Siti Askama



JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN KONSENTRASI GIZI MASYARAKAT
FAKULTAS TEKNOLOGI DAN INDUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2016


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Diare merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang seperti di Indonesia karena mortalitas dan morbiditasnya yang masih tinggi. Diare merupakan penyebab kedua kematian terbanyak kedua setelah Pneumonia. Diare adalah buang air besar tidak normal atau bentuk tinja encer dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya atau lebih dari 3 kali dalam sehari yang dapat menyebabkan hilangnya cairan, dan dapat mengancam jiwa, terutamapada anak-anak dan orang-orang yang kurang gizi atau memiliki gangguan kekebalan.
Survei morbiditas Departemen Kesehatan dari tahun 2009 dengan jumlah penderita diare 53.854 sampai tahun 2010 dengan jumlah penderita diare 54.612 menunjukkan jumlah penderita diare meningkat. Tahun 2010 perbandingan menjadi 411/1000 penduduk. Prevalensi diare di Sumatera Selatan menurut Riskesdas tahun 2007 untuk Sumatera Selatan 7,0. Kasus diare pada tahun 2011, di perkirakan 60.204 diare di Kota Palembang dan hanya 45.707 (75,92%) kasus diantaranya mampu ditangani. Prevalensi tertinggi di Kecamatan Ilir Timur II,  diikuti kecamatan Seberang Ulu I dan Kecamatan Sukarame. Terdapat 3 puskesmas di Kecamatan Sukarami dengan angka kejadian diare tertinggi berturut-turut adalah Puskesmas Sosial, Talang Betutu, dan Sukarami. Di Puskemas Sukarami, terdapat 1.034 jiwa (2,26%) yang mengalami diare.
Vitamin A merupakan salah satu zat gizi penting yang larut dalam lemak dan disimpan dalam hati. Vitamin A tidak dapat dibuat oleh tubuh, sehingga harus dipenuhi dari luar (essensial), berfungsi untuk penglihatan, pertumbuhan dan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit. Dimana sumber utama vitamin A salah satunya berasal dari bahan makanan hewani dan jingga serta sayuran yang berwarna hijau tua.
Penggunaan vitamin A pada penelitian Almatsier dapat mengurangi angka kejadian ISPA dan diare. Long dkk dalam penelitian menyatakan hal yang sama dan menyatakan bahwa kejadian ISPA dan diare pada anak yang mendapatkan suplemen seng dan vitamin mengalami penurunan.
Bayi dan balita lebih rentan mengalami infeksi saluran cerna. Vitamin A dapat membantu memperbaiki epitel intestinal yang rusak akibat infeksi akut. Vitamin A berperan  pada proliferasi dan diferensiasi sel-sel serta meningkatkan respon sistem imun. Defisiensi vitamin A menyebabkan anak rentan mengalami penyakit diare5. Sekitar 23-62% kasus diare merupakan kasus diare persisten yang erat kaitannya dengan kematian dibeberapa negara berkembang. 
Data Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan tahun 2011 menunjukkan hanya 85,53% bayi usia 6-11 bulan yang mendapatkan vitamin A dan 81,21% balita usia 12-59 bulan yang mendapatkan vitamin A. Di Kecamatan Sukarame khususnya di Puskesmas Sukarami belum dijumpai data pasti mengenai jumlah kapsul yang disediakan dan jumlah vitamin A yang diterima anak. Penyakit diare masih menempati peringkat ketiga sebagai Kecamatan diare terbanyak. Penyebaran vitamin A yang tidak mencakup seluruh anak dapat menyebabkan prevalensi penyakit diare meningkat. Penyakit diare pada anak yang tidak mendapat suplementasi vitamin A lebih lama daripada tidak mendapatkan vitamin A. Perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui Apakah suplemen vitamin A yang tidak diberikan pada anak diare dapat memperpanjang lama diare pada anak.
B.     Tujuan Penulisan
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh suplementasi vitamin A terhadap lama diare pada anak di Puskesmas Sukarami  Palembang.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Vitamin A
Vitamin A merupakan zat penting untuk mensintesis pigmen sel - sel retina yang fotosintesis, dan diferensiasi normal struktur epitel penghasil lendir. Kekurangan yang parah menyebabkan rabun senja, serosis, dan keratinisasi konjungtiva dan kornea yang padaakhirnya menimbulkan ulkus serta nekrosis kornea (Arisman, 2004).
Fungsi Vitamin A secara umum yaitu membantu pembentukan jaringan tubuh dan tulang, meningkatkan penglihatan dan ketajaman mata, memelihara kesehatan kulit dan rambut, meningkatkan kekebalan tubuh, memproteksi jantung, anti kanker dan katarak, pertumbuhan dan reproduksi (Purwitasari dan Maryanti, 2009).
Anak - anak yang cukup mendapat vitamin A bila terkena diare, campak atau penyakit infeksi lain, maka penyakit - penyakit tersebut tidak mudah menjadi parah, sehingga tidak membahayakan jiwa anak (Depkes RI, 1995).\
Tujuan pemberian vitamin A dosis tinggi yang ingin dicapai dalam akselerasi yaitu untuk semua bayi, balita, dan ibu nifas mendapat dan meminum vitamin A. Sedangkan tujuan khususnya yaitu tergalangnya kepedulian petugas untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat dalam distribusi kapsul vitamin A, meningkatkan pengetahuan dan kepedulian masyarakat mengenai perlunya distribusi kapsul vitamin A pada sasaran (bayi 6-11bulan, balita 1-5 tahun dan ibu nifas) (Depkes RI, 2000).
Pemberian vitamin A dosis tinggi telah terbukti mampu mengawasi xerofthalmia, mencegah kebutaan dan mengurangi angka kematian anak akibat infeksi tertentu (terutama campak dan diare) pada masyarakat yang mengalami defisiensi. Suplementasi cara ini juga terbukti efektif dalam memperbaiki secara cepat keadaan ibu dan bayi yang baru dilahirkan (Depkes RI, 2000).
Program pemberian suplementasi vitamin A diyakini efektif dan aman. Vitamin A diberikan dengan dosis anjuran, tidak akan terjadi efek samping yang serius dan menetap. Efek samping yang sampai sekarang terpantau cukup ringan hanya keluhan sakit kepala dan muntah. (pada bayi fontanela mengeras atau menggelembung) dan tidak memerlukanpengobatan yang khas. Jika status vitamin A sudah baik, pemberian suplemen menjadi tidak penting. Namun, jika diteruskan juga tidak membahayakan (Depkes RI, 2000).
B.     Pencernaan dan Penyerapan Karotenoid dan Vitamin A
            Setelah seseorang makan, vitamin A yang sudah terbentuk dan karotenoid dilepaskan oleh kerja pepsin dalam lambung dan oleh berbagai enzim-enzim proteolitik dalam saluran usus bagian atas. Karotenoid dan turunan-turunana vitamin A mengumpul ke dalam  globula-globula lipid yang kemudian terdispersi dalam usus bagian atas oleh asam-asam empedu yang terkonjugasi. Ester-ester santofil dan vitamin A dalam emulsi lipida ini selanjutnya dihidrolisis oleh berbagai enzim esterase dalam cairan pancreas, menghasilkan karotenoid dan vitamin A yang bebas. Bersamaan dengan itu juga treigliserida , fosfolipida dan ester-ester kolesteril juga dihidrolisis. Partikel-partikel teremulsi yang dihasilkannya pertama-tama berdifusi ke dalam lapisan glikoprotein di sekitar mikrofili dari sel-sel epitel usus dan kemudian diserap.
            Berbagai factor yang mempengaruhi efisiensi penyerapan karotenoid dan vitamin A adalah : terdapatnya lemak, protein, dan antioksidan dalam makanan; terdapatnya cairan empedu dan komponen normal dari enzim-enzim pankreas dalam lumen usus; dan kesempurnaan sel-sel mukosa. (Andi Hakim Nasoetion. 1986)
C.    Transformasi Vitamin A dan Karotenoid dalam Sel-sel Mukosa
            Sebagian besar retinol yang diserap, diesterifikasi dengan asam palmitat di dalam sel-sel mukosa. Koenzim A dan ATP biasanya dibutuhkan untuk esterifikasi ini, meskipun mungkin juga terjadi esterifikasi-trans dengan fosfolipida atau berbagai donor asil lainnya.
            Beberapa retinol mungkin juga dioksidasi menjadi retinaldehida, dan sejumlah kecil aldehida ini selanjutnya dioksidasi menjadi asam retionat. β – karoten dan karotenoid provitamin A lainnya sebagian besar membelah pada ikatan rangkap 15,15’ menghasilkan dua molekul all-trans retinaldehida. Enzim-enzim yang mengkatalisis reaksi ini yaitu 15,15’ karotenoid dioksigenase adalah suatu enzim yang larut yang keaktifannya tertekan oleh kurangnya konsumsi protein. Beberapa karoteniod yang terhidroksilasi tunggal mungkin juga diubah menjadi satu molekul retinaldehida oleh pembelahan keluar dari rantai karotenoid diikuti oleh pemendekan rantai. Sebagian besar retinaldehida yang terbentuk direduksi oleh enzim retinaldehida reduktase menjadi retinol yang kemudian diesterifikasi. Ester retinil bersama-sama dengan trigliserida, fosfolipida dan ester kolesteril kemudian bersatu ke dalam kilomikron. Bergantung pada spesiesnya, beberapa karotenoid mungkin hilang dalam usus dan mungkin juga muncul dalam kilomikron. (Andi Hakim Nasoetion. 1986)
D.    Metabolisme Vitamin A
Vitamin A dan β-karoten diserap dari usus halus dan sebagian besar disimpan di dalam hati. Setelah dilepaskan dari bahan pangan dalam proses pencernaan, senyawa tersebut diserap oleh usus halus dengan bantuan  asam empedu (pembentukan micelle).Vitamin A dan karoten diserap oleh usus dari micelle secara difusi pasif, kemudian digabungkan dengan kilomikron dan diserap melalui saluran limfatik, kemudian bergabung dengan saluran darah dan ditransportasikan ke hati. Di hati, vitamin A digabungkan dengan asam palmitat dan disimpan dalam bentuk retinil-palmitat. Bila diperlukan oleh sel-sel tubuh, retinil palmitat diikat oleh protein pengikat retinol (retinol-binding protein=RBP), yang disintesis dalam hati. Selanjutnya ditransfer ke protein lain, untuk diangkut ke sel-sel jaringan.
Vitamin A yang tidak digunakan oleh sel-sel tubuh diikat oleh protein pengikat retinol seluler, sebagian diangkut ke hati dan bergabung dengan asam empedu, yang selanjutnya diekskresikan ke usus halus, kemudian dikeluarkan dari tubuh melalui feses. Sebagian lagi diangkut ke ginjal dan diekskresikan melalui urine dalam bentuk asam retinoat.
E.     Metabolisme Vitamin A Terhadap Diare
Pada saluran pencernaan, defisiensi vitamin A dapat sebagai faktor risiko maupun akibat diare. Diare dapat menyebabkan defisiensi vitamin A melalui beberapa mekanisme. Pertama, kerusakan mikrovili usus menekan fungsi brush border retinyl esterase yang berperan dalam absorpsi vitamin A pada usus. Kedua, banyaknya vitamin A yang keluar bersama dengan diare. Sebaliknya, anak dengan defisiensi vitamin A cenderung mengalami diare karena defisiensi vitamin A memperpanjang siklus sel dari sel crypt dan menggangu kemampuan migrasinya, menekan differensiasi sel goblet ususdan produksi mukus, menyebabkan terjadi kerusakan atau atrofi vili usus, sehingga integritas epitel usus terganggu, dan menjadi rentan terhadap infeksi.23,26 Selain itu, defisiensi vitamin A menyebabkan gangguan respon antibodi tubuh.27 Karena itu, pada tahun 1996, IVACG (International Vitamin A Consultative Group) mengeluarkan Policy Statement on Vitamin A, Diarrhea and Measles, yang merekomendasikan suplementasi vitamin A sebagai strategi penting memperkecil konsekuensi dari defisiensi vitamin ini.
F.     Contoh Kasus
“Pengaruh Suplementasi Vitamin A Terhadap Lama Diare pada Anak Usia 14-51 Bulan yang Berobat di Puskesmas Sukarami Palembang”
            
            Tabel 1 menunjukan hasil distribusi sampel berdasarkan karakteristik umum jenis kelamin, didapatkan jenis kelamin laki-laki sebanyak 35 (58,3%) balita menderita diare dan jenis kelamin perempuan sebanyak 25 (41,7%) balita menderita diare.
            Hasil penelitian ini menunjukkan anak laki-laki lebih banyak mengalami diare dibandingkan dengan anak perempuan. Hal ini selaras dengan penelitian yang dilakukan shimelis tahun 2008 bahwa terdapat 53,3% kejadian diare pada anak laki-laki dan terdapat 46,7% kejadian diare pada anak perempuan.
               
            Tabel 2  menunjukkan hasil distribusi sampel berdasarkan karakteristik umum usia balita, didapatkan usia 14-23 bulan sebanyak  24 (40%)balita menderita diare,usia 24-32 bulan sebanyak 22 (36,7%) balita menderita diare, usia 33-41 bulan sebanyak 6 (10%) balita menderita diare, dan usia 42-51 bulan sebanyak 8 (13,3) balita menderita diare.
Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Gascon dkk tahun 2000 di Ifakara, Tanzania dimana didapatkan kasus diare paling banyak terjadi pada anak usia 1-3 tahun (65,1%) dan anak usia 4-5 tahun (31%).
            
            Tabel 3  menunjukkan hasil distribusi sampel berdasarkan karakteristik umum berat bayi lahir, didapatkan dibawah dari 2500 berat lahir bayi sebanyak  9 (15%) balita menderita diare dan berat lahir bayi normal 51 (85%) balita menderita diare.
            
            Tabel 4 menunjukkan hasil distribusi sampel berdasarkan karakteristik umum usia ibu,  didapatkan 21  (35%) usia dibawah  25 tahun, 26 (43,3%) ibu berusia 25-29 tahun, 9 (15%) usia 30-34 tahun, dan 4 (6,7%) ibuusia lebih dari 35 tahun. 
            
            Tabel 5  menunjukkan hasil distribusi sampel karakteristik umum berdasarkan pendidikan ibu, didapatkan 28 (47%) anak, ibu dengan tingkat dasar dan 32 (53%) anak, ibu dengan tingkat pendidikan tinggi.
            
            Tabel 6 menunjukkan hasil distribusi riwayat suplementasi vitamin A berdasarkan jenis kelamin, laki-laki didapatkan 35 anak, 23 anak (65,7%) diantaranya diberikan suplementasi vitamin A dan 12 anak (34,3%) tidak diberikan.  perempuan didapatkan sebanyak 25 anak, dimana 20 anak (80%) diberikan suplementasi vitamin A dan 5 anak (20%) tidak diberikan suplementasi vitamin A. 
            
            Tabel 7 menunjukkan hasil distribusi riwayat suplementasi vitamin A berdasarkan usia balita, didapatkan 24 balita usia 14-23 bulan, 12 anak(50%) diantaranya diberikan suplementasi vitamin A dan 12 anak (50%) tidak diberikan. Balita usia 24-32 bulan didapatkan sebanyak 22 balita, dimana 19 anak (86,4%) diberikan suplementasi vitamin A dan 3 anak (13,6%) tidak diberikan. Balita usia didapatkan sebanyak 6 balita, 4 anak (66,7%) diberikan suplementasi vitamin A dan 2 anak (33,3%) tidak diberikan. Balita usia 42-51 bulan didapatkan sebanyak 8 balita, 8 anak (100%) diberikan suplementasi vitamin A dan 0 (0%) tidak diberikan. 
            
            Tabel 8 menunjukkan hasil distribusi riwayat suplementasi vitamin A berdasarkan berat bayi lahir, dimana berat lahir bayi dibawah 2500 didapatkan sebanyak 9 anak, 5 anak (55,6%) diantaranya diberikan suplementasi vitamin A dan 4 anak (44,4%) tidak diberikan. Berat bayi lahir normal didapatkan sebanyak 51 anak anak, dimana 38 anak (74,5%) diberikan suplementasi vitamin A dan 13 anak (25,5%) tidak diberikan.
            
            Tabel 9 menunjukkan hasil distribusi riwayat suplementasi vitamin A berdasarkanusia ibu, didapatkan 21 ibu usia dibawah 25 tahun, 14 anak (66,7%) diberikan suplementasi vitamin A dan 7 anak (33,7%) tidak diberikan. ibu usia 25-29 tahun didapatkan sebanyak 26 ibu, 19 anak (73,1%) diberikan suplementasi vitamin A dan 7 anak (26,9%) tidak diberikan. Ibu usia 30-34 tahun didapatkan sebanyak 9 ibu, 7 anak (77,8%) diberikan suplementasi vitamin A dan 2 anak (22,2%) tidak diberikan. Ibu usia lebih dari 35 tahun sebanyak 4 ibu, diantaranya 3 anak (75%) diberikan suplementasi  vitamin A dan 1 anak (25%) tidak diberikan.
            
            Tabel 10 menunjukkan hasil distribusi riwayat suplementasi vitamin A berdasarkan pendidikan ibu, dimana pendidikan ibu dengan tingkat pendidikan dasar didapatkan sebanyak 28 ibu, 19 anak (67,85%) diantaranya diberikan suplementasi  vitamin A dan 9 anak (32,15%) tidak diberikan. Pendidikan ibu dengan tingkat pendidikan tinggi didapatkan sebanyak 32 ibu, 24 anak (75%) diberikan suplementasi vitamin A dan 8 anak (25%) tidak diberikan. Jumlah anak yang berkunjung ke Puskesmas Sukarami Palembang sebanyak 220 anak, dan  Sebanyak 99 anak menderita diare dan hanya 60 anak yang menjadi sampel penelitian. Prevalensi diare yang didapatkandi Puskesmas Sukarami sebesar 27,2%. Jumlah anak yang menjadi sampel penelitian yaitu 60 anak. Anak yang mendapat suplementasi vitamin A sebesar 43 anak (71,7%)  dan anak yang tidak mendapat  sebesar 17 anak (28,3%).
            Hasil ini menunjukkan bahwa proporsi anak yang diberikan vitamin A pada tingkat pendidikan ibu dengan pendidikan dasar lebih rendah dibandingkan dengan tingkat pendidikan ibu dengan pendidikan tinggi ibu lebih tinggi.
            
            Tabel 11 Menunjukkan bahwa distribusi lama diare terdistribusi normal dengan p = 0,242 dengan rerata diare dua kelompok adalah 5,06±1,66 menggunakan OneSample Kolmogorov-Smirnov Test.
            
            Tabel 12 menunjukkan hasil rerata lama diare yang diberi suplementasi vitamin A sebesar 4,32±1,26 hari lebih cepatdibandingkan dengan yang tidak diberi suplementasi vitamin A sebesar 6,94±0,89 hari sebanyak 17 anak adalah 6,94±0,89 hari dengan taraf  kepercayaan 95% dengan confident interval adalah 2,02 sampai 3,20.  Nilai p yang didapatkan berdasarkan hasil analisis uji t-independent sebesar 0,000 (p < 0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna  rata-rata lama diare antara balita yang menderita diare pada balita yang sebelumnya diberi suplementasi vitamin A dan tidak diberi suplementasi vitamin A di Puskesmas Sukarami Palembang.
            Durasi diare merupakan lama kejadian diare berlangsung atau rentang waktu kejadian diare, dari mulai diare sampai berhenti. Diare dianggap berhentiapabila feses encer terakhir berlangsung 2 kali 24 jam. Durasi diare pada penelitian ini terlama adalah 8 hari dan yang tercepat adalah 2 hari. Rerata durasi diare pada anak yang mendapatkan suplementasi vitamin A sebesar 4,32±1,26 hari lebih cepat bila dibandingkan dengan tidak diberikan suplementasi vitamin A yakni, 6,94±0,89 hari.
            Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Sylviati di Surabaya yang mendapatkan lama penyembuhan diare pada anak yang mendapat vitamin A lebih cepat penyembuhannya dibandingkan yang tidak diberi vitamin A. Hasil penelitian ini selaras dengan hasil penelitian Dumalang di Manado yang mendapatkan lama diare pada penderita diare yang diberi vitamin A adalah 3,68 hari dan pada penderita yang tidak diberi vitamin A adalah 4,7 hari. Penggunaan vitamin A dapat membantu memperbaiki epitel intestinal yang rusak akibat infeksi akut. Vitamin A berperan dalam proliferasi dan differensiasi epitel dapat meningkatkan respon sistem imun sehingga dapat mengurangi risiko terjadi diare persisten. 





























BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang ada, dapat disimpulkan bahwa:Prevalensi diare pada anak usia 14-51 bulan di Puskesmas Sukarami Palembang adalah sebesar 27,2%.
Dimana, sebanyak 43 (71,7%) anak diare yang mendapat suplementasi vitamin A dan 17 (28,3%) anak yang diare  tidak mendapat suplementasi vitamin A.Rerata durasi diare pada kedua kelompok penelitian 5,06 ± 1,66 hari.Anak yang mendapat suplementasi vitamin A mempunyai rerata durasi diare lebih pendek (4,32 ± 1,26 hari) dibandingkan anak yang tidak mendapat suplementasi vitamin A (6,94 ± 0,89 hari), dengan perbedaan yang bermakna (p = 0,000). 




















DAFTAR PUSTAKA

Muchtadi, Deddy, dkk. 1993. Metabolisme Zat Gizi Jilid 2. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.
Nasoetion, Andi Hakim dan Darwin Karyadi.  1986. Pengetahuan Gizi Mutakhir Vitamin. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

Shimellis, D., dkk. 2008. Effect Of Zinc Supplementation In Treatment Of Acute Diarrhoea         Among 2 – 59 Months Children Treated In Black Lion Hospital, Addis. Ababa. Ethiophia            Journal of Health, 22(2):187-190.

Gascon, dkk. 2000. Diarrhea In Children Under 5 Years Of Age From Ifakara, Tanzania: A Case-            Control Study, Journal Of Clinical Microbiology, 38:12.

Dyah, S., 1997. Tesis: Pengaruh Pemberian Vitamin A Terhadap Perjalanan Diare Akut. Bagian    Ilmu Kesehatan Anak FK UNAIR, Surabaya, Indonesia.

Dumalang. P., dkk. 1996. Tesis: Pengaruh Vitamin A Terhadap Lama Diare Akut Pada Anak-      Anak Yang Dirawat di RSUP Manado Selang Bulan September 1995- Maret 1996,      Kongres Nasional Ilmu Kesehatan Anak X, Bukit Tinggi.

Edem, D.O, 2009. Vitamin A:Review. Asian Journal of Clinical Nutrition. 68 : hal 65-82. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar